Apr 10 2009

exploring salzburg (day 3)

Pagi hari cuaca di Salzburg mendung dan snow fall turun walau tak besar tapi cukup membuat suhu jadi minus 3 derajat celcius. Cuaca yg mendung membuat mood kita mendung juga awalnya tapi alhamdulillah semakin siang cuaca menjadi lebih cerah. Sarapan yg disediakan oleh hotel juga standard buat orang bule dan lagi2x harus extra hati2x dgn pork.

Sekitar jam 8.30an kita start explore kota Salzburg yg terkenal sebagai tempat kelahiran Wolfgang Amadeus Mozart tak aneh gambar Mozart dimana-mana dan tour mengunjungi rumah Mozart jadi jualan dimana2x oleh operator wisata disini. Kota ini juga terkenal gara2x film The Sound of Music yg memang shootingnya dilakukan di kota ini. Bosan juga ngeliat jualan wisata di Europe ini dgn castle, museum, gedung2x tua, patung2x, kalo diperhatikan kurang lebih satu dgn lainnya hampir sama aja seperti itu. Kita memang datang ke Salzburg utk menikmati alamnya yg di kelilingi dgn pegunungan Alpennya dan melihat desa2x disekitarnya.

Tujuan pertama kita mengunjungi Mirabellplatz atau Mirabell Palace. Karena masih pagi jadi belum terlalu rame di tempat ini, tapi terlihat wajah2x sipit turis dari Jepang/ Korea/ China mendominasi. Hasna yg berwajah sipit jadi seperti tak beda dengan mereka, tapi mungkin itu turis Jepangnya bingung kok ibunya pake Jilbab 🙂 kita menikmati taman luas yg ada di palace ini dgn kembangnya yg warna-warni. Cuman temperatur yg dingin memang membuat kita tak bisa berlama2x disatu tempat dan terus jalan menuju ke down-town-nya old town agar badan relatif jadi hangat. Susah juga mau tanya arah karena orang jarang banget yg bisa English kalopun bisa juga sepatah dua kata yg harus hati2x juga karena salah tangkap bisa makin nyasar jadinya he..he.. bahkan receptionist hotel sekelas Mercure juga Englishnya ala kadarnya, yg paling umum bilang “Good bye…” 🙂

Untuk kota sekecil Salzburg kagum juga kita transportasi tramnya begitu teratur padahal kota ini berada di gunung. Malu juga kalo ngebandingin dgn negara sendiri. Seperti yg tadi udah di bilang lama2x bosen juga ngeliat bangunan2x di Eropa yg kurang lebih semacam itulah bentuknya dgn menonjolkan patung2x disana sini. Cuman karena kita pengen tau seperti apa sih old town-nya Salzburg akhirnya kita susuri juga kotanya berjalan kali, termasuk melewati sungat Salzach river. Setelah menyurusi Salzach river kita bergerak ke satu jalan yg terkenal banget di kota ini yg namanya Getreidegasse, mungkin kalo di Bandung jalan ini disebut jalan Braganya-lah. Udah capek muterin old town kita balik lagi ke tempat parkir mobil yg arahnya ke arah Mirabell Palace. Ngeliat dompet uang sudah menipis kita mampir ke ATM dulu ambil Euro cash, hari ini sudah tak sabar kita pengen makan nasi yg enak dan halal, restorannya sudah kita tandain dari sejak di Doha, jadi sudah ngiler-lah intinya cuman karena baru jam sepuluh masak mau lunch 🙂

Dari Mirabell Palace kita bergerak ke arah stadion Redbull yg menjadi salah satu stadion dalam Euro 2008 lalu, stadiumnya relatif kecil juga dan surprise bisa jadi host sekelas Euro cup. Abis foto2x sebentar disekitar stadion Redbull kita lanjutkan perjalanan ke Salzkamergut yg terkenal dgn keindahan alamnya dan masuk sebagai salah satu UNESCO World Heritage Site. Ini saat yg kita tunggu-tunggu karena memang kita sudah tau alamnya begitu indah dari berbagai situs diinternet maupun dari youtube. Pemandangan nan hijau dgn background pegunungan Alpen yg saljunya masih begitu tebal. Tulisan ini amat terbatas utk menggambarkan keindahan alam Salzkamergut ciptaan Allah yg maha sempurna, berikut video yg berhasil kita rekam dalam perjalanan ke Salzkamergut

(to be continued…)


Apr 3 2009

going to salzburg (day 2)

Setelah begadang sampai dini cukup teler juga paginya. Setelah sholat subuh lanjut lagi tidur sampai pagi hari. Hari cukup cerah mudah2xan tidak ada another surprise lainnya dari office sana 🙂 Jam 8-an kita bergegas breakfast. Seperti biasa breakfast ala bule, roti, keju, susu, juice, dll. Ya sudahlah utk beberapa hari kedepan terpaksa kita membiasakan diri makan ala bule he..he.. Untungnya si kecil Hasna masih ada hidangan yg cocok yaitu sereal dgn milk. Kita sih makan roti, telur & juice cuman memang kendalanya di Eropa adalah mereka senang dgn babi alias pork jadi memang harus extra hati2x dalam memilih makanan. Kalo sudah ingat masalah susahnya dapat makanan halal disini, kita bersyukur sekali tinggal di middle east khususnya Qatar yg bisa makan di mana saja yg inshaAllah dijamin kehalalannya.

depan novotel wien city

depan novotel wien city

Selepas sarapan kita sempatkan jalan2x disekitar hotel tempat kita tinggal, kebetulan dekat tempat kita tinggal ada Mesjid Al-Hidayah (Praterstrasse 51) hanya sekitar 200 meteran dari tempat kita jadi kita pengen liat seperti apa mesjidnya, tentunya jangan dibayangkan mesjidnya megah/ mentereng di pinggir jalan tapi masuk kedalam. Baru jalan 200-an kita udah menggigil kedinginan walaupun cuaca cerah tapi karena maklum kita datang dari gurun jadi terkena udara 3 derajat celcius sudah merasa tersiksa, walaupun sudah berpakaian “komplit” 🙂 Padahal bulan Januari lalu saya juga berkunjung ke Czech Republic dan saat itu temperatur berkisar antara minus-14 s.d minus 17 derajat celcius, tadinya dikira kalo 3 derajat udah kebal taunya tetep aja nggak kuat he..he… Kadang suka mikir kok orang bisa tahan hidup didaerah extreem dgn suhu -17 atau konon di satu wilayah di Finland bisa sampe -30!!! ah kayak apa pula itu rasanya… tapi mungkin mereka juga mikir kok kamu bisa tahan hidup di desert dgn suhu 50 derajat celcius he…he…

Praterstrasse

Praterstrasse

Karena sudah tak kuat lagi kita balik lagi ke hotel dan siap2x check-out karena hari ini kita berniat pergi ke kota Salzburg yg berjarak sekitar 3 jam-an drive dari Vienna. Oya belum kasih komentar ya ttg Novotel Wien City, hotel ini ok-lah kamar luas bahkan kamar tempat kita ada 1 double bed dan sofa yg bisa di jadikan bednya dan saat kita masuk sofanya sudah di set-up menjadi bed juga jadi praktis seperti punya 2 double bed di kamar, walaupun begitu tetap roomy. Internet connection ok walaupun sayangnya harus bayar he..he..segala harus bayar disini mah, parkir mobil juga bayar kalo kita parkir di garage mereka. Sarapan standar lah yah…kecuali kalo mereka menyediakan bubur ayam mang Ayo baru saya kasih jempol, tapi dgn harga yg ditawarkan wajarlah dan termasuk hotel yg direkomendasikan. Lokasinya juga cukup strategis (keliatannya he..he..). Yg jelas harus booking dari internetlah, pengalaman booking dari internet selalu lebih murah trus coba bookingnya jangan hanya melalui novotel.com saja tapi coba juga via booking.com terkadang harga di booking.com bisa lebih murah daripada di website hotel itu sendiri.

Hari ini kita sudah janjian sama mbak Nunink untuk jalan bareng ke supermarket utk beli perbekalan ke Salzburg. Kita selesai sudah check-out dan pas pula mbak Nunink bawa barang bawaan begitu banyak pake plastic bag…wah ternyata itu perbekalan utk kita dari mulai mie instant, beras, sampe rice cooker, aduh mbak makasih sekali, kita bener2x ngerepotin tapi kita bersyukur sekali belakangan kita sadar memang seharusnya kalo ke Salzburg bawa peralatan semacam itu. Karena susah sekali utk dapat makanan halal disana. Sudah sejak dari Doha kita siapkan lokasi restoran halal yg ada di Doha tapi prakteknya nggak semudah itu.

chopstick - wien

chopstick - wien

Selepas belanja perbekalan kita makan siang di Chopstic di Millenium City Mall, ini restoran Malaysia di Vienna. Wah karena sudah lapar berat kita makan lahap masing masing. Ada yg pesan nasi goreng, ada yg pesen laksa, ada yg pesen nasi lemak. Pedasnya juga mantaf, irisan cabe kecil kecil. Selepas dari Chopstic kita bergegas meluncur ke Salzburg agar tak terlalu malam sampe di sananya kalo berangkat sekitar jam 2-an dari Vienna. Sewaktu ngecek koordinat di GPS terlihat kalo dekat Millenium City ada Vienna Islamic Center Mosque, akhirnya kita putuskan mampir kesana untuk sholat dulu. Hari ini hari jum’at cuman saya ambil rukhsah untuk tidak sholat jum’at karena sedang dalam perjalanan/ safar. Jadi kita sholat duhur dan asar di mesjid Vienna Islamic Center Mosque. Mesjidnya relatif besar cuman sayang nampaknya perawatannya sedikit kurang maksimal jadi bangunannya terlihat kusam walaupun megah sebetulnya.

raststation between vienna - salzburg

raststation between vienna - salzburg

Selepas sholat duhur dan ashar kita langsung start menuju ke Salzburg, kurang lebih sekitar jam 14-an kita start dari Vienna dan ekspetasi kita sampe di Salzburg sekitar jam 18-an artinya sebelum gelap. Sepanjang jalan kita menikmati sekali pemandangan nan hijau dgn perkampungan kecil nan tertata rapi di sisi kanan atau kiri jalan. Latar belakang gunung Alpen dgn saljunya yg memutih membuat suasana romantis he..he.. cuaca sepanjang jalan berubah-rubah kadang cerah, kadang hujan, kadang snow fall, kadang berkabut jadi otomatis kita tak bisa memacu kendaraan terlalu cepat (hanya sekitar 120 km/h). Oya mobil sewaan kita sudah dilengkapi stiker utk highway jadi sudah tak perlu repot2x lagi mikirin urusan bayar tol. Istri dan anak yg memang pengen main salju girang pas liat di tempat pemberhentian ada salju cukup tebal, so berhentilah kita untuk sekedar foto dan main salju. Maklum orang dari gurun jadi girang banget liat salju he..he… Karena memang kita menuju ke daerah pegunungan jadi memang jalan yg kita lalui relatif menanjak dan otomatis suhu semakin turun semakin dekat ke Salzburg, dari mulai plus 3 degree celcius trus turun turun perlahan dan ketika masuk ke kota Salzburg hari sudah gelap dan temperatur yg di tunjukkan di mobil kita menunjukkan minus 1 degree celcius. Video amatiran dibawah ini sekilas merekam keindahan panorama nan romantis antara Vienna – Salzburg.

Hasna sudah terlelap saat kita sampai di hotel Mercure Kapuzinerberg. Tak seperti halnya hotel di Asia yg ada bell boy/ room boy yg ngangkatin luggage dari mobil sampe ke ruangan, kalo di Europe boro2x semua dikerjakan sendiri, bahkan saat kita masuk ke hotel Mercure ini suasana sepi banget di receptionist hanya ada satu orang saja…jadi seereemmm he..he…, selesai check-in kita ambil trolley dan angkat barang sendiri dari mobil hingga ke ruangan. Suasana hotel yg remang dan bangunan hotel yg relatif tua serasa kita dibawa ke old ages 🙂 tapi alhamdulillah ruangannya luas dan bersih, cuman heater di ruangan kurang panas walau sudah di maksimalkan. Internet diruangan juga relatif weak signalnya akhirnya komplen bolak balik ke receptionist dan parahnya nggak ada teknisinya jadinya receptionistnya telepon sana sini, untung aja masalahnya beres. Overall ok-lah apalagi harganya juga relatif murah untuk ukuran hotel bintang 4 di Europe.

Selepas sholat jama magrib & isha saatnya makan malam, alhamdulillah perbekalan yg dibekalin sama mbak Nunink begitu kumplit, akhirnya malam pertama di Salzburg ini dinikmati dgn masak nasi dan indomie. Dua kombinasi nasi dan Indomie di kota kecil semacam Salzburg ini jadi makanan super exclusive he..he..coba kalo dari Doha bawa sambel ABC udah deh perfect!! Alhamdulillah kenyang dan saatnya rehat dikeheningan malam kota Salzburg…


Apr 1 2009

arrived in vienna (day 1)

Sebetulnya ini perjalanan dinas cuman ndak ada salahnya di gandeng dgn jalan bareng keluarga kan… 🙂 Memang dari segi waktu kalo diliat kurang ideal karena cuaca masih relatif dingin di Europe tapi gimana lagi wong kesempatannya datang sekarang… Seperti biasa jalan dgn keluarga membutuhkan extra luggage terlebih si kecil Hasna harus dibawakan perlengkapannya seperti mainan, DVD portable, alat menggambar, dll dll… kita pengen bawa koper seminim mungkin tapi barang yg dibawa pengen banyak he..he.. Kita juga sudah ready dgn koordinat2x GPS di wilayah2x yg dituju seperti hotel, restaurant dan tempat2x wisata yg rencananya kita kunjungi.

ready for boarding

ready for boarding

Kita berangkat dari Doha tanggal 19 March pake Qatar Airways menuju ke Vienna (QR095), kita sengaja pilih Doha-Vienna biar direct flight cuman sayang ternyata pesawat yg kita naiki ternyata bukan berbadan lebar walaupun juga nggak kecil2x amat. Yg mengganggu kita dalam penerbangan ini karena layar videonya tidak tersedia disetiap kursi tapi tersedia di plafon pesawat dan yg problem adalah film yg disetel adalah filem dewasa akhirnya kita kerepotan nutupin pandangan Hasna sepanjang perjalangan supaya tidak melihat kelayar videonya…ah Qatar Airways harusnya berpikir juga bahwa filem semacam itu tak baik untuk anak2x. Penerbangan hanya memakan waktu 6 jam dari Doha, berangkat jam 8 pagi waktu Doha (GMT+3) dan sampe di Vienna sekitar jam 12 siang (GMT+1). Kita sudah diberitahu oleh kawan kalo cuaca disekitar Vienna mendung/ hujan sejak beberapa hari yg lalu dan akan mendung/hujan terus sepanjang minggu kedepan. Sudah terasa memang saat kita mendekati Europe pesawat terus berguncang.

Vienna International Airport terkesan kecil untuk ukuran bandara utama disebuah negara. Pemeriksaan passport memasuki Schengen state yg biasanya terkesan kaku dan angker tak terjadi di Vienna ini. Sebelum ambil luggage kita cari trolley, ternyata trolley disini harus sewa/ bayar untuk memakainya, jadi si trolley itu dirantai satu sama lain, dan utk melepas kuncinya itu kita harus memasukkan koin 1 atau 2 Euro. Karena baru mendarat kita tak punya koinlah akhirnya nuker deh ke money changer utk dapat uang recehan. Salah satu kendala disini adalah jarang orang yg bisa bahasa Inggris karena majoritas komunikasi menggunakan bahasa Jerman, jadi kadang pake bahasa Tarsan untuk menerangkan sesuatu he..he..

Selepas ambil luggage kita cari rental car, kita sudah survey sejak dari Doha ttg rental car ini. Sedari Doha kita udah mau booking car tapi kata kawan “udah langsung aja on the spot…nggak ada bedanya kok…” akhirnya kita turutin aja…pas sedang liat liat counter rental car ada telepon masuk dari bagian monitoring di office… oh yaa Allah please… betul aja ternyata telepon itu ngasih tau kalo ada problem disalah satu system & butuh penanganan segera. Sembari pilah pilih mobil yg mau disewa juga sembari troubleshooting problem di office alias kontak sana kontak sini untuk bantu ngecekin. Walhasil milih mobilnya ndak konsentrasi dan sudah bisa ditebak amburadul jadinya berakibat dapat sewa mobil yg mahal di Avis car, harganya tak perlu disebutkan disini tapi yg jelas pricenya double dari yg seharusnya kalo kita booking dari internet. So kalo mau jalan ke Europe atau kemanapun juga make sure booking dari internet terutama kalo mau sewanya dalam jangka waktu yg lama. Salah satu rekomendasi kita adalah Sixt Rent Car, selain karena murah (pertimbangan utama) juga kita tak perlu bayar dulu kalo booking dari internet dan lokasi officenya juga banyak jadi memudahkan utk mengembalikan kendaraannya. Kita sempat pake layanan Sixt Rent Car waktu sewa mobil untuk kedua kalinya, ntar kita ceritain ttg yg ini lebih detail.

Selesai administrasi di Avis Car kita menuju ke basement utk ambil car-nya, dapat mobil cukup mungil Mercedes A180 dgn bahan bakar diesel dan memang kebanyakan mobil di Europe menggunakan bahan bakar diesel, dari segi costnya juga diesel jauh lebih murah dari bensin tapi tetap saja harga diesel di Europe sekitar 5 kali harga bensin kelas platinum di Doha ini :-)

Setelah masukkan luggage ke bagasi mobil dan pasang GPS yg sudah ready dgn map Europe kita mulai jalan keluar dari airport dan sembari menikmati pemandangan nan hijau sepanjang jalan menuju down town Vienna. Sayang seribu sayang problem di office merusak suasana, sepanjang jalan menuju Vienna telepon berdering tak berhenti dan sesekali buat emergency call ke vendor juga utk eskalasi :-( 🙁 istripun ikutan manyun karena suasana liburan terganggu…apaboleh buat konsekuensi bekerja di operation ya seperti ini honey…

Sampai di hotel Novotel Wien City sekitar jam 3 sore dan sambil check-in sambil sibuk telepon ke vendor dan koordinasi sana sini. Pas ambil luggage dari bagasi mobil tiba2x snow fall datang. Istri dan anak yg memang pengen liat salju langsung girang melihat ada snow fall :-) langsung segera menuju kamar dan langsung cari koneksi internet dan langsung konek VPN untuk ngecek system di office yg sejak tadi ngadat nggak kenal kompromi. Sambil koordinasi dgn teman via chat dan call sana sini…tak terasa sudah jam 18.30 waktunya untuk ketemu dgn mas Benny Lubiantara, seorang kawan pakar ekonomi migas yg kerja di OPEC Vienna. Luar biasa bingung karena problem tak kunjung usai tapi undangan makan sungguh tak sopan untuk ditampik, dengan berat hati saya minta di tunda hingga 19.30 dgn harapan problem bisa diselesaikan. Waktu tunda 1 jam seperti satu menit berlalu dan bisa ditebak problem tak selesai juga… untuk menunda lagi jelas nggak mungkin terpaksa berangkat walaupun pikiran bercabang kemana2x. Langsung turun ke lobby ketemu mas Benny yg sudah menunggu cukup lama. Langsung kita minta maaf karena telat dan juga karena menunda acaranya. Dari Novotel Wien City langsung menuju rumah mas Benny, ternyata dirumahnya sudah disediakan makanan yg banyak sekali, saking banyaknya sampe lupa apa aja yg dihidangkan he..he.. terimakasih banyak buat mbak Nunink yg sudah masak begitu banyak tapi sayang karena pikiran bercabang jadi makannya ndak bisa khusu’ karena sedikit2x liat ke mobile device ngecek mobile email kalo ada update ttg problem dioffice…

Tak terasa waktu sudah jam 10 malam rasanya tak enak kalo lebih malam lagi karena kita akan diantar balik ke hotel oleh mas Benny, jadi kita pamitan saja dgn harapan besok bisa ketemu lagi dgn suasana berbeda maksudnya problem di officenya semoga sudah selesai. Balik sampe kehotel langsung berkutat di depan laptop utk troubleshoot problem lagi…alhamdulillah problem selesai(dgn temporary solution)  sekitar jam 2 dinihari waktu Vienna…aarrrgghhh betul2x rusak liburan hari pertama ini…anyway thanks a lot to my colleague -Teddy Mulia- yg udah ngebantuin gw troubleshoot dari Doha sana yg nyaris 24 jam stay di office 🙂